HOME PAGE

Kamis, 03 Desember 2009

REAL STORY NOTE'S

REAL STORY

NOTE

Penulis : WIDODO

TGL: 12-11-2008

Tak ada satu hal yang menarik dalam hidupku yang ada hanya kerja dan kerja tapi dibalik itu ada satu hal yang aku sukai yaitu berkumpul sama temen-temen enaknya kalo masuk jam pagi yang seperti orang-orang kalo kerja masuk pagi kalo sore kumpul ma temen N ma keluarga adek kakak dan yang lainnya, dalam hidupku masih ada satu hal yang mengganjal dihati yaitu bveban hidup yang semakin berat dan hutang yang masih belum terbayar, adalagi tunggakan uang sekolah sehingga ijazahku masih belum bisa diambil, dan kini aku masih mengumpulkan uang hasil kerjaku, ya masih berusaha dan tak mauku tuk menyerah wallaupun tanggungan beban hidup semaikin berat saja tapi aku masih ada yang membantu mencari uang yaitu dua adekku byang lulusan SMP jadi kerja seadanya yang penting halal dan masih bisa mencukupi kehidupan kami kami sangat bahagia walaupun kehidupan kami masih kekurangan dan serba terbatas dalam hal apapun, kisah in adalah kisah nyata yang ada disekeliling kita tanpa kita sadari,tapi aku hidupku tidaklah mudah ada satu cobaan yang sangat berat dalam hidupku yaitu ketika ibu kami meninggal dunia, hal itu membuat kami sangat terpukul dan tidak percaya akan hal tersebut, setelah kepergian Almarhumha ibu kami hidup kami jadi kacau ya seperti ga ada yang mengasuh adek kami yang masih duduk dikelas I (satu) SD aku sangat kasihan sama adek aku, yang masih kecil sudah ditinggal pergi ibu kami,kami semua menyanyangi adek kami dan berusaha memenuhi keinginan adek kami karena kami sangat sayang pada dia, dan beberapa bulan kepergian ibu kami muncul satu maslah yang membuat hubungan kami renggang terhadap bapak kami karena hal yang tidak disetujui oleh anak-anaknya yaitu menikah lagi dengan wanita yang kami anggap kurang baik bagi kami dan adek kami yang masih kecil, yang sering kami dengar wanita itu pernah bekerja sebagai wanita malam atau PSK ditempat lokalisasi di daerah tersebut, pernah terjadi pertengkaran mulut sehingga kami memutuskan untuk pergi dari rumah karena wanita tersebut dibawa pulang kerumah dan kami tak terima kamilangsung keluar dari rumah dan sementara itu jam 12 malam, ya kami bingung tuk pergi kemana tapi kami putuskan tuk kerumah nenek kami yang sedikit jauh dari rumah kami, waktu kami sedih tapi kami harus bangkit dan mencoba tak membutuhkan bapak lagi, tapi kami tak lama dirumah nenek terlalu lama kami putuskan tuk mencari kontrakan setelah itu bapak kami datang dan mengajak kami pulang tapi dengan kamiberi persyaratan yaitu jangan membawa wanita tersebut kerumah lagi jika itu terjadi kami tak akan pulang kerumah lagi, kami pun pulang dan memulai hari yang baru, tapi bapak kami masih berhubungan secara diam diam dan kami tak perdulikan lagi dia terserah maunya apa yang penting jangan membawa wanita itu kerumah dan sampai sekarang itu masih terjadi dan masih banyak kisah yang belum saya tulis di catatan ini yang sangat mengaharukan. Bersambung............!!!!!!!!!

Selasa, 01 Desember 2009

JUDUL TAK TEPAT

PUISI
Maaf saya tidak dapat menemukan judul yang tepat
untuk untaian kalimat yang hendak saya tulis
hari-hariku dipenuhi oleh suara-suara tak bergetar seperti kemarin ....
getaran itu semakin lama semakin sayup... perlahan
getaran itu melemah dan berhenti
seperti denyut nadi anak-anak ingusan
tak terdengar mereka oleh gesekan angin

Jika demokrasi adalah judul terindah bagi suatu bangsa
maka bangsaku hendak menggunakannya pula
mereka mengorbankan jiwa dengan sukarela atau dengan pesan
mereka sama-sama berdarah dan bahkan hilang oleh dahaga tanah
aliran sari-sari makanan kebebasan tak pernah sampai
tersebar ke seluruh tubuh
berhenti mereka di antara lembaran-lembaran kertas berstempel

Maaf jika hidupku adalah demokrasi
nampaknya ia tak punya judul lagi
kadang saya merasa sangat berharga dan ingin hidup
seperti jiwa Chairil Anwar
namun kadang saya menemukan ketidakbernilaian
yang mendorongku untuk mengakhiri hidup
the object of my affection telah mati
bersama judul tulisan-tulisan tentang demokrasi yang semakin kabur

PUISI


Air matamu mengiris hatiku halus
kuusapkan telapak tanganku ke wajahmu yang pucat
terlihat ketakutan kehilangan akan nafasmu
nafasmu yang mengalir dalam nafasku

Kubelai rambutmu dengan kelembutan angin malam
terasa getaran menyatu diujung jari-jari
tak kuasa menahan gejolak kasih
limpahan nuansa kejora malam yang tak bertepi

Tak akan kutinggalkan hatimu yang manangis pilu
telah terpatri janji pada kedalaman nurani
akan ikut menyatu kegalauan kasih dalam derita
meski kekuatan malam hendak meragas